Jumat, 10 Oktober 2008

DUDE (juara II Sayembara Cerpen Remaja Tk. Prov Jateng 2006 )

DUDE

Ah, senangnya…
Pagi ini cerah bang
et! Sinar matahari yang nggak begitu panas, sarapan buatan mama yang rasanya oke punya, membuatku semakin semangat untuk mengawali hari ini. Ya, gimana nggak? Hari ini hari pertamaku duduk di bangku kelas XI. Untuk itu aku berangkat lebih awal. Jelas semuanya sudah aku persiapkan sesempurna mungkin. Mulai dari dandan yang cantik—inget, nggak ada kamus tampil jelek dalam hidupku. Untuk menghadapi hari ini aja, kemarin aku ke salon. Creambath, facial, mani, padi, potong gaya rambut baru. Nggak ketinggalan beli sepatu Gosh keluaran terbaru yang modelnya funky abis! Dan selalu siap buat menempati kelas baru, ketemu guru baru, suasana baru. Wah, nggak sabar rasanya untuk merasakan semuanya yang serba baru.
Kulangkahkan kaki dengan riang menuju gerbang sekolah setelah turun dari Honda Jazzku yang selalu keliatan manis dengan cat bernuansakan pink! Karena aku, amat sangat nggak level untuk naik sebuah angkutan kota yang setiap pagi selalu terisi penuh oleh makhluk-makhluk berseragam sekolah yang bertujuan sama, menuntut ilmu. Walaupun nggak jarang dari mereka yang hanya menghambur-hamburkan uang orang tuanya dengan bolos sekolah. Tapi semua nggak begitu penting buatku sekarang. Karena yang jelas, di dalam kamus hidupku nggak ada tuh yang namanya bolos, buang-buang waktu!!!
Hey, sebentar….!
Sepertinya aku melihat wajah-wajah baru dihadapanku. Lucu-lucu!! Tampang mereka masih lugu. Dan, lihat bajunya! Ups, ternyata mereka murid baru di sini. Masih pakai seragam putih biru dengan celana khasnya yang berukuran pendek. Ingin tertawa rasanya melihat cowok yang celananya terlalu pendek sehingga setengah dari pahanya kelihatan. Wah, bisa ngecengin adik kelas nih! Sepertinya, mereka nggak kalah ganteng sama anak basket yang lagaknya pada sok belagu dan mukanya sengak itu!.
Rupanya aku sudah terlalu lama memperhatikan anak-anak baru yang lagi ribut mempersiapkan tetek bengeknya buat MOS hari ini. Sampai-sampai aku lupa belum ketemu sama dua sobatku yang kocak abis. Kususuri setiap koridor yang ada di sekolah. Tapi, mereka tetap belum ketemu juga.
“Duh, kemana sih tu anak?” gerutku kesal.
Sampai tiba-tiba aku melihat sesosok anak laki-laki berseragam SMP duduk termenung, sendirian di pojok koridor. Dia pasti anak baru. Tanpa ragu aku mendekatinya, memberikan senyumku yang kata orang manis. Tapi, kenapa anak ini diam saja? Ada yang salah dengan senyumku? Apa dia nggak tahu kalau senyum yang baru saja dia lihat adalah senyum termanis hasil polling teman-teman sekelasku dulu??
“Kok nggak gabung sama yang lain? Ntar dimarahi Kakak OSIS lho kalau telat!” aku berusaha mencairkan suasana.
Masih diam.
“Kok nggak dijawab? Apa barang yang mestinya kamu bawa ketinggalan?” coba-coba aku menebak. Barangkali tebakanku ada benarnya.
Hanya geleng-geleng.
“Terus, kenapa masih di sini? Ayo, gabung sama yang lain!”
Diam lagi.
Lupa belum berkenalan, aku mengulurkan tanganku, kemudian dengan bangga menyebutkan namaku, “Mey” yang sebenarnya kalau boleh dikasih embel-embel pasti lah akan aku lanjutkan dengan “Aku ini putri tunggal keluarga Hadiwardoyo, kamu tau kan?” Semua orang jelas tahu siapa Hadiwardoyo itu. Pengusaha tembakau yang cabangnya ada dimana-mana bahkan sampai ke luar negeri. Tapi, jika aku mengatakan itu semua, anak ini pasti tidak akan menanggapinya dengan suka cita. Karena dia pun hanya membalas uluran tanganku, sambil mengatakan sebuah nama yang menurutku cukup unik, “Dude”, dengan menyunggingkan seulas senyum yang wow manis! Sungguh, maniiis sekali. Apa ini adik kelas yang ganteng itu?
Tapi, sekali lagi, nggak ada kata yang terlontar dari mulutnya kecuali sebuah nama yang unik itu. Sekilas aku memandangi wajahnya, nggak kalah manis dengan senyumnya tadi. Eh, tunggu! Sepertinya, anak ini berasal dari keluarga yang bisa dibilang kurang mampu. Lihat saja bajunya agak kusam! Celananya?? Seperti yang sudah aku lihat tadi, pendek! Pendek sekali. Sampai kulit sawo matang yang dimilikinya terlihat jelas. Dan sepatunya? Rasanya aku baru pernah melihat sepatu model seperti itu. Ada beberapa bagian luarnya yang sobek-sobek, bagian depannya malah menganga seperti mulut buaya. Beda sekali dengan sepatu yang biasa aku lihat di distro. Apa ini keluaran terbaru Adidas? Reebok? Nike? Atau merek terbaru?
Ya, ampun! Sesaat aku tersadar. Betapa bodohnya aku yang nggak bisa mengartikan keadaan. Dia pasti malu dengan temen-temen barunya karena keadaanya yang seperti ini. Memang, sekolahku ini sekolah favorit, sekolah bergengsi yang ada di kota ini. Mayoritas, murid-muridnya berasal dari keluarga mampu, anak pejabat, pengusaha, pedagang kelas internasional alias eksport-import seperti papaku.
Lalu, kenapa aku masih berdiri di sini? Aku pasti bakal diketawain sama temen-temen kalau ketahuan deket sama anak miskin kaya Dude. Tanpa pamit, aku langsung ngacir, kembali mencari dua sobatku yang sialan banget karena dari tadi dicari nggak ketemu-ketemu. Sampai akhirnya aku melihat mereka sedang asyik sarapan di kantin sekolah.
“Woi, dicariin, nggak taunya di sini!” Dengan nada kesal aku mendekati mereka dan langsung meminum teh botol yang tepat berada di depan Dio. Temanku dari TK yang nggak pernah merasakan nikmatnya punya tubuh langsing bahkan atletis karena dari dulu berat badannya nggak pernah kurang dari 70 kg! Kontan saja Dio ngambek.
“Eh, itu teh botolku! Jangan seenaknya gitu dong!”
“Aku haus banget nih. Dari tadi keliling sekolahan cari kalian, kan capek...”
“Salah sendiri punya HP dimatiin. Buang aja tuh di tempat sampah! Aku kan jadi susah hubungin kamu!” Oli ikut-ikutan marah.
“Oya, aku lupa HPku belum diaktifin! Aduh sori banget ya!”
Bel masuk berbunyi.
Kelas baruku sekarang, warganya nggak jauh beda dengan kelas sebelumnya. Hanya segelintir anak yang nggak lagi berada di kelas ini. Itu tandanya, predikatku sebagai cewek yang punya senyum termanis di kelas akan tetap aku sandang. Setidaknya satu tahun ke depan. Dan asyiknya lagi, aku masih satu kelas dengan dua sobatku.

Wali kelasku masuk.
Acara pertama menyusun struktur organisasi. Dan lagi-lagi aku dinobatkan menjadi bendahara kelas. Sebuah jabatan yang nggak pernah absen dari aku SMP. Katanya sih aku ini orang kaya. Jadi, soal duit gampang deh!
“Karena hari ini hari pertama di tahun ajaran baru, Ibu kira cukup sekian dulu kegiatan kita hari ini. Kalian boleh pulang lebih awal. “ perintah wali kelasku yang segera disusul dengan suara gaduh anak-anak yang kegirangan.
“Mey, nongkrong dulu yuk!” ajak Oli saat kami bertiga berjalan beriringan menuju tempat parkir.
“Iya Mey, ini kan masih pagi. Jalan-jalan dulu yuk!” Dio menambahi.
“Iya, iya...beres!” aku mengiyakan. Karena aku pun merasa bosan kalau harus langsung pulang ke rumah. Tapi, beberapa langkah sebelum aku membuka pintu mobilku, mataku kembali tertuju pada Dude. Dia masih termenung rupanya. Hanya bedanya, sekarang dia benar-benar sendiri. Berdiri di tengah lapangan. Kenapa ya? Apa jangan-jangan dia dihukum gara-gara telat? Kenapa tiba-tiba ada rasa iba di hati ini untuk anak laki-laki bernama Dude itu?
“Woi, Mey cepetan buka mobilnya! Kok bengong sih?!” suara lantang Oli mengagetkanku.
“Ups, maaf!!” dengan cepat segera aku buka mobilku dan menstaternya. Berhadap Oli dan Dio tidak menangkap basah mataku yang sedari tadi memandangi Dude.
Tidak lama kemudian, Jazzku telah terparkir manis di sebuah pusat perbelanjaan kenamaan. Kabarnya, di sini sedang ada diskon besar-besaran.
Akhirnya hari ini kami habiskan waktu yang ada buat belanja sepuasnya. Dompetku sampai benar-benar tipis saking asyiknya berbelanja.

Lewat seminggu.
Entah siapa yang mengajakku selalu memikirkannya. Padahal dia nggak ada ikatan apa-apa denganku. Sahabat? Bukan. Saudara? Bukan. Apalagi pacar, bukan! Hanya sebatas teman biasa yang hanya sempat bertatap muka sebentar. Itupun Cuma sebatas kenalan yang singkat, bahkan terlalu singkat. Tapi aku terlalu gengsi untuk lebih dekat dengannya. Apa kata orang nanti? Seorang Mey punya temen anak miskin! Duduk sebangku dengan Amir yang rumahnya di perumahan kumuh saja aku sudah alergi. Kulitku rasanya gatal! Perutku juga mual gara-gara mencium aroma parfumnya yang baunya seperti kemenyan! Pasti parfum yang dia pakai parfum murahan! Aku nggak level sama parfum gituan! Baunya itu lho, nggak tahaaan...!!!
Tapi sekarang, kenapa hatiku tergerak untuk mengetahui lebih banyak tentang Dude? Sepertinya dia punya karisma yang kuat sehingga aku benar-benar dekat dengan dia. Sekali lagi, walaupun dia miskin.
Lalu, aku harus gimana supaya bica cari tahu lebih banyak tentang Dude?
Nah, itu dia!
Nggak sengaja aku melihatnya lewat depan kelasku. Aku sama sekali tidak memperdulikan Pak Imam yang sedang sibuk menjelaskan tentang vektor. Pandanganku terus menuju anak itu. Tapi hanya sekilas, karena setelah itu Dude melangkah entah kemana.
“Mey, ngomong-ngomong kamu hampir ulang tahun kan?” Oli membuka percakapan seusai meneguk segelas es jeruk di kantin sekolah.
Sambil menepuk jidat aku berkata lantang, “Oya, aku sampai lupa sendiri!”
“Ini kan ulang tahunmu yang ketujuh belas, kudu dirayain besar-besaran tuh!” Dio menambahi.
“Hmmm, gimana kalau dirayain di villa kamu aja yang di Bogor? Kita undang temen-temen sekelas! Setuju nggak Mey?” Oli memberi usul.
“Ide bagus tuh! Sepulang sekolah kita belanja buat perlengkapan pestanya ya!” kataku semangat.
Mobilku melaju di tengah keramaian kota. Panas matahari yang menyengat sama sekali nggak membuat kami gerah. Karena mobilku, jelas dilengkapi AC yang berkualitas.
Setelah memasuki pusat perbelanjaan, kami membeli semua perlengkapan yang dibutuhkan. Nggak lupa aku menghubungi Papa untuk meminta ijin menggunakan villa itu. Aku tahu Papa pasti nggak akan menolak apapun permintaanku. Karena buat siapa lagi kekayaan yang Papa punya selain untukku. Aku ini kan pewaris tunggal keluarga Hadiwardoyo. Ah, betapa beruntungnya aku.
Semuanya beres. Saatnya aku mengantarkan satu per satu sobatku pulang. Mobilku berhenti tepat di depan lampu merah. Anak-anak kecil yang dekil berhamburan menuju mobil-mobil di sekitar mobilku. Dan tak kusangka, mobilku kena sasaran juga. Ya Tuhan, betapa menjijikannya melihat pakaian mereka yang lusuh, rambut mereka yang kusut, kaki mereka yang tak beralas, dan lihat kukunya! Ya ampun, kotor banget!.
Sambil bernyanyi tanpa memperdulikan nada yang meleset, seorang anak perempuan mengulurkan tangannya di dekat kaca mobilku.
“Mey, dikasih duit tuh!” Oli membuyarkan lamunanku.
“Nggak ada uang kecil” aku berbohong.
“Udah, dikasih berapa aja deh! Dia pasti seneng!” Dio menambahi.
“Udah dibilang nggak ada uang kecil, masa mau dikasih lima ribuan? Kebanyakan, kan?” jawabku cari alasan.
“Ya ampun Mey, itungan banget sih! Kasian tuh!” Oli terlihat kesal.
“Dia kan udah dikasih fisik yang sempurna. Kenapa nggak buat bekerja aja. Kan, bisa dapet duit tuh!” ucapku tanpa sempat Dio maupun Oli menjawab, karena lampu lalu lintas yang tadinya merah kini berubah menjadi hijau.

Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali aku sudah berada di belakang kemudi. Hari ini ada tugas kimia. Dan aku sama sekali belum mengerjakannya, semalam aku kecapean setelah seharian belanja mempersiapkan pesta ulang tahunku. Jadi, apa boleh buat. Aku harus cepat sampai sekolah untuk menyalin tugas itu.
Sesampainya di sekolah, aku segera memarkir mobilku dan dengan tergesa-gesa menuju kelasku. Tapi, belum ada beberapa langkah dari gerbang sekolah, aku melihat sosok itu lagi dan masih seperti kali pertama aku melihatnya. Termenung. Aku pikir, apa asyiknya sih termenung? Apa dia sama sekali nggak ingin bermain, ngobrol atau sekedar tegur sapa dengan teman-teman yang lalu lalang lewat di hadapannya?
Ah, tapi untuk saat ini tugas kimia itu lebih penting. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali ngobrol dengannya pagi ini. Tapi kalau ingat Bu Rini yang galaknya nggak ketulungan, aku jadi ingin cepat-cepat sampai kelas dan segera merampungkan tugas itu.
Bu Rini masuk dengan muka juteknya. Untung saja aku sudah menyelesaikan semua tugasnya. Karena kalau nggak, bisa-bisa saat ini aku sudah berada di tengah lapangan upacara bersama Amir si anak miskin yang dekil itu untuk menikmati panasnya matahari.


Bel istirahat.
Secepat kilat aku keluar kelas. Menghiraukan panggilan Oli. Tak perduli Oli kebingungan karena sikapku. Yang penting aku harus ketemu Dude sekarang.
Sebenarnya, aku sendiri masih dihantui rasa bingung yang amat sangat, kenapa aku selalu ingin tahu tentang dia. Tapi aku benar-benar penasaran dengan anak yang bernama Dude itu. Sepertinya dia menyimpan sesuatu yang aku harus tau apa itu.
Nggak butuh waktu lama untuk mencarinya. Anak seperti Dude, pasti bukan tipe anak yang langsung berhamburan ke luar kelas bersama teman-temannya untuk menuju kantin begitu bel istirahat berbunyi. Aku melihatnya duduk di bangku panjang depan kelasnya. Entah apa yang membuatku ingin bercerita banyak dengannya. Segera kupercepat langkahku.
Sekarang aku berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Bahkan terlihat dekat. Tapi dia sama sekali tidak memperhatikan kehadiranku. Muncul rasa ragu untuk mulai menyapa. Atau lebih tepatnya, aku sama sakali belum tahu obrolan apa yang pas untuk kami perbincangkan saat ini. Tiba-tiba aku merasa menjadi cewek bodoh yang nggak berpikir dulu sebelum bertindak.
Kapalaku sibuk mengamati sekelilingku. Berharap jangan sampai ada beberapa pasang mata yang melihatku sedang berada dekat dengan Dude. Tapi sejenak kemudian, aku dibuat terpesona olehnya. Nampaknya, dia mulai memperhatikan aku. Baru saja dia menyuguhkan senyum manisnya padaku.
Tiba-tiba saja rasa ragu itu hilang dan aku mulai menyapanya.
“Hai, sendirian aja nih?” aku mendekatinya dan langsung ambil tempat di sebelahnya.
“Iya.” Jawabnya singkat.
Ya ampun! Dia pelit ngomong banget sih! Pikirku.
“Kok nggak bareng sama temen-temen ke kantin? Kan rame! Kamu nggak laper? Atau udah sarapan tadi di rumah?” tanyaku beruntun, berharap dia lebih dermawan untuk berbicara.
“Nggak ah, males.” Tapi ternyata dia masih dengan singkat menjawab pertanyaanku.

Ah, percuma saja ngobrol dengannya karena dia pun pasti nggak akan mampu bercerita banyak tentang dirinya. Dan jelas, kalau begini caranya aku nggak bakal tau apa yang selama ini membuatku penasaran tentang dia. Bel kembali berbunyi. Aku segera bergegas kembali ke kelas seraya pamit dengan Dude yang hanya dibalas dengan senyuman dan anggukan kecil.
Sore ini aku sudah beradai di butik milik perancang busana ternama di Indonesia. Di sudut ruangan, aku melihat gaun cantik sekali. Warnanya pink! Pas sekali dengan warna kesukaanku. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil dan mencobanya di ruang ganti. Dan, lihat! Betapa anggunnya aku memakai gaun ini. Teman-teman pasti terperangah dengan kecantikanku begitu melihat aku mengenakan gaun ini di pesta ulang tahunku nanti.
Harganya??? Jangan ditanya. Pastilah cukup untuk membeli handphone kamera keluaran paling baru. Tapi itu semua sama sekali tak mengurungkan niatku untuk membelinya. Aku segera menuju kasir dan membayarnya menggunakan kartu kreditku.
Dengan langkah riang aku keluar butik sambil menjinjing tas belanjaan berisi gaun cantik itu dan segera menuju mobilku.
Belum lama aku mengemudikan mobil kesayanganku, mataku tertuju pada sesosok anak laki-laki yang sama sekali nggak asing lagi buatku.
“Ngapain Dude sore-sore gini di pinggir jalan?” Aku bergumam sendiri.
Segera aku menghentikan mobilku tepat di depan Dude. Kubuka kaca mobil dan segera menyapanya dengan riang.
“Hey, sendirian aja nih. Mau ke mana?”
“Pulang.” Masih pelit ngomong.
“Bareng aku aja yuk!” tawarku tanpa ragu.
“Makasih.” Jawabnya sopan.
“Nggak apa-apa, ayo mas...” ucapanku terpotong saat Dude dengan cueknya memberhentikan sebuah angkutan umum dan segera menaikinya.
Tanpa pikir panjang aku mengikuti kemana angkutan umum itu melaju. Nggak lama kemudian, Dude turun di depan gang sempit. Segera kuparkir mobilku dan bergegas ke luar dari mobil untuk terus mengikuti Dude. Kulangkahkan kaki pelan-pelan. Jangan sampai Dude tau kalau saat ini aku sedang mengikutinya. Aku terus menyusuri gang sempit ini yang benar-benar kotor! Hanya dibatasi dua tembok besar yang sudah lumutan di kedua sisinya, sampah di sana-sini, kotoran ayam di mana-mana, anak kecil yang berpakaian lusuh, bermain, berlarian tak memakai sandal dan bukk! Seorang bocah menabrakku. Segera ku bersihkan bajuku, takut kulitku alergi setelah bersentuhan dengan tubuh mungil yang dekil itu. Tanpa rasa bersalah dia tersenyum padaku dan dengan pedenya memamerkan sederet giginya yang kuning, mungkin karena jarang bahkan nggak pernah gosok gigi. Aku benar-benar merasa jijik melihat adegan barusan.
Aku masih terus mengikuti ke mana Dude pergi. Sampai tiba-tiba aku terhenyak melihat sebuah bangunan kecil yang dibangun tak permanen, hanya disusun oleh kayu-kayu bekas yang sudah tak lagi terpakai, tak berpintu dan sama sekali tak berjendela. Alasnya masih tanah. Tiga anak kecil yang nggak kalah dekilnya dengan anak yang menabrakku tadi menyambut dengan riang kedatangannya.
Dan tanpa aku sadari. Dude menoleh dan ups, aku ketahuan! Ingin rasanya mengambil langkah seribu dan tak mau melihat Dude lagi. Aku malu ketahuan mengikutinya. Tapi, aku nggak mau dianggap pengecut. Segera aku memberikan senyum manisku. Tapi kenapa Dude nggak membalasnya? Apa dia marah karena diam-diam aku membuntutinya?
“Kok, di situ aja? Ayo sini masuk!”
Kejutan! Ya, itu kejutan besar! Dude mau menyapaku duluan. Bahkan saat aku melakukan sebuah tindakan yang seharusnya tidak aku lakukan. Diam-diam mengikutinya. Aku segera mengiyakan ajakan Dude, walaupun merasa risih untuk masuk ke rumah sederhana itu.
Segera aku disambutnya dengan ramah. Mempersilahkanku duduk di bangku kayu reot yang hampir jatuh saat kududuki karena kakinya yang sudah oleng. Beda sekali sikapnya pada saat di sekolah. Di sini, Dude bukanlah anak yang hobinya termenung!
Aku disuguhi banyak sekali makanan kecil yang sama sekali tak mengundang seleraku karena toplesnya yang sudah tidak kelihatan cantik. Aku yakin, toples-toples ini pasti dia ambil dari unggukan sampah. Uh, ingin muntah rasanya!
Tak lupa Dude memperkenalkan ketiga anak kecil tadi. Aku perhatikan ketiga anak itu. Lucu sekali tingkah mereka. Malu-malu menatapku. Tiba-tiba kekagetanku memuncak saat kurasa mengenali salah satu wajah diantara mereka. Anak perempuan itu! Ya, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi, di mana ya? Sekuat tenaga aku berusaha mengingatnya.
Ya, ampun! Mukaku memerah. Malu. Kaget. Bingung!
Anak perempuan itu yang dulu pernah meminta-minta di perempatan lampu merah. Dan aku dengan cueknya sama sekali tak memberikan sepeser pun uang untuknya.
Dude tampaknya menyadari kekagetanku. Dan dengan deras, mengalirlah cerita pilu dari mulutnya.
Aku benar-benar masih tak percaya dengan apa yang aku lihat barusan. Seorang Dude tinggal di rumah sejelek itu? Anak manis yang punya sejuta karisma ini pasti malu dengan teman-temannya karena hidupnya yang pas-pasan. Miskin, rumah jelek, tinggal di perkampungan kumuh, nggak punya baju bagus, sepatu bagus, handphone keren dan lebih tragisnya lagi Bapaknya nggak tau pergi ke mana.
Judi. Jadi alasan utama Bapak Dude pergi meninggalkan keluarganya. Semua harta benda yang dulu mereka miliki, habis terpakai untuk berjudi oleh Bapaknya. Karena malu tidak punya rumah, Bapaknya pun tak mau tahu pergi ke mana. Sungguh Bapak yang tidak bertanggung jawab!
Imbasnya, setiap pagi-pagi buta, Dude bersama ibunya, dengan tekad yang kuat untuk menghidupi keluarga mereka memunguti sampah, menjualnya dan menikmati hasil jerih payahnya itu bersama ketiga Adiknya. Walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari, tapi bagi Dude yang penting adik-adiknya tak kelaparan.
Penderitaannya belum berhenti sampai di sini. Hampir saja Dude tak bersekolah karena Ibunya yang sering sakit-sakitan. Dia takut tak punya biaya untuk sekolah karena sudah terpakai untuk berobat. Tapi Tuhan punya rencana apik. Dude mendapat beasiswa karena kepandaiannya.
Hati ini rasanya pedih sekali mendengar cerita Dude. Betapa aku sangat beruntung punya keluarga yang lengkap, harta benda yang amat sangat cukup. Tapi aku terlalu sombong! Tak memperdulikan orang-orang di sekelilingku.
Tiba-tiba aku ingat Mbok Min pembantu di rumahku yang selalu aku bentak-bentak setiap dia bawa anaknya yang masih kecil itu ke rumah. Hanya karena kaosnya yang kotor, ingusnya yang selalu ke luar dari hidung mungilnya, tak kunjung berhenti. Dan Mas Udin, Satpam yang sering sekali minta pinjaman uang ke Papa. Katanya untuk bayar uang sekolah anaknya lah, kontrakan rumah lah dan masih banyak lagi alasan yang diutarakan.
Selama ini, aku cuek banget sama mereka. Memerintah seenaknya, mencemooh, membentak-bentak. Ya Tuhan, betapa jahatnya diri ini. Mbok Min dan Mas Udin pasti punya sekelumit cerita pilu, sama seperti Dude. Yang membuat Mbok Min selalu membawa anaknya bekerja dan Mas Udin meminjam uang ke Papa, walaupun belum pernah aku lihat dikembalikannya hutang-hutang itu.
Kubelokkan arah kemudiku. Memasuki halaman parkir yang tak begitu luas di sebuah yayasan yatim piatu. Tiba-tiba aku sudah tak ingin lagi mengenakan gaun pink yang cantik itu.

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...