Kamis, 14 Mei 2009

Sekelumit Cerita Tentang Ibu

Hari ini memang bukan hari ibu. Bukan pula ulang tahun ibu, sudah lewat satu minggu yang lalu.

Tapi aku ingin sedikit bercerita tentangnya.
Tentang wanita super yang dari rahimnya keluar aku yang nakaL ! :p
Ibuku itu wanita cantik. Foto-foto jaman mudanya dulu membuatku tahu bahwa kecantikan yang ada pada diriku saat ini memang menurun darinya (narsis mode : ON ! haha)

Suka sekali makan yang pedas-pedas. Kalau makan bakso bersama, kami kadang berdecak kagum saat ibu menuangkan beberapa sendok sambal + saus ke mangkoknya. Belum lagi kalau makan mendoan dengan cabai rawit yang besar-besar.

Ibu juga pintar memasak. Tapi, keahliannya yang satu ini belum sama sekali menurun ke satu pun anak perempuannya. Padahal tak jarang aku di ajaknya ikut ‘menghancurkan’ dapur. Di ajari cara memasak tumis kangkung dan sebagainya. Diberinya beberapa resep makanan. Tapi aku hanya mengangguk-ngangguk seolah mengerti saat ibu bertanya “nah, gitu resepnya. Ngerti kan? Di inget-inget ya !”. Maka sekali lagi, anggukan yang hanya disertai kata “iyaaaa..” itu cuma sebatas anggukan belaka yang jika beberapa hari kemudian gantian aku yang disuruh memasak, aku langsung menjawab “enggak bisaaaa !”

Ibu itu pelindung. Dulu, waktu seumuran SD, kamarku persis di sebelah kamar ibu. Kalau suatu malam aku mimpi mengerikan dan menyeramkan, entah kenapa, begitu tersadar, langsung teriak “ibuuuuuuuu..!!!!”, maka dengan kaget dan tergopoh-gopoh karena tidur nyenyaknya terusik dengan suara lolonganku, ibu datang ke kamarku dan tanpa dikomando, beliau langsung saja tidur di sebelahku. Atau jika benar-benar ketakutan, langsung kugedor kamar ibu. Begitu pintu terbuka, langkahku tak tertahankan untuk tidur disisinya dan memeluknya erat-erat. Setelah itu, mimpinya hilang, berganti dengan tidur yang nyenyak.

Ibuku itu sering menunjukkan kasih sayangnya dengan emosi.
Sekilas, kerjaannya marah marah. Kalau sudah begitu, seisi rumah dibuat BT olehnya. Semua kena imbas. Jutek sekali mukanya.
Aku sering menangis dibuatnya. Salah sedikit, ibu marah. Dulu, kadang aku iri kenapa ibu tak seperti ibu-ibu lain? Kenapa ibu tak seperti ibu teman-temanku yang tak pernah marah-marah dan ngga jutek?
Malah, aku sempat berpikir, kenapa aku punya ibu seperti ibuku yang kerjaannya marah-marah?
Tak jarang juga ibu berbicara dengan nada sedikit ketus karena aku nakal atau mungkin tak nurut dengan perintahnya. Ah, bahkan tangannya pernah mendarat di pipiku ketika tak sengaja aku menumpahkan bubuk bahan untuk buat kue *lupa namanya* yang, waktu itu, aku buat main-main di lempar-lempar.

Tapi, ibuku itu wonderwoman sejati. Dia superhero keluarga. Saat Bapak lebih sering disebut ‘supir’ ketika kami sekeluarga bepergian, maka ibu lebih suka menganggap dirinya sebagai manager keluarga. Wanita itu yang mengatur segalanya, walaupun kadang terkesan sedikit ‘sok ngatur’. Tapi percayalah kawan, tak ada ibu semua kacau. She always seem how to handle.
Jika musim lebaran datang, ritual kami adalah menginap di tempat mbah dari bapak dan juga dari ibu. Mulai dari logistik ( camilan, minum, dll) untuk diperjalanan sampai semua perlengkapan mandi yang dipakai sekeluarga ( ex : sabun, pasta gigi, shampo ,dll) semua ibu yang ngatur. Bukan berarti semuanya diserahkan sama ibu. Barang-barang pribadi untuk diriku sendiri tentu saja tidak lagi jadi bagiannya. Kecuali untuk adikku yang paling kecil.

Ah, mungkin harus banyak halaman jika ingin menceritakan segalanya tentang ibu.
Ibu yang selalu memberikan supprotnya saat aku akan masuk ke bangku kuliah (Lagi-lagi masalah ini).
Dia bilang segalanya adalah yang terbaik.Walaupun aku belum merasakan sesuatu ‘yang terbaik’ itu sampai detik ini.

Ibu yang ikut-ikutan panik saat jerawat-jerawat sialan itu bertandang ke wajahku.
Ibu yang selalu semangat ketika aku ingin potong model rambut baru.
Ibu yang suka komplain jika aku memakai baju warna gelap.
Ibu yang memrogramkan kawat gigi untukku *Oh, tidaaaak..*
Ibu yang lebih suka kalau anak-anaknya dibilang lebih cantik dari dirinya dari pada ibunya yang lebih cantik dari anaknya.
Ibu yang selalu cemas dan menyalahkan bapak kalau aku mengabarkan bahwa uangku untuk keperluan hidup di kota orang ini telah habis.
Ibu yang tak begitu suka aku menganut paham konsumtif. Selalu ditegur saat pulang ke banjar dengan membawa sesuatu yang ‘baru’.
Ibu yang selalu ingin aku menyanyi di tiap kesempatan, bahkan di sebuah cafe yang saat itu banyak teman-temanku di sana dan seketika itu juga aku menolaknya *hoho..aku tak sePD dulu, bu*
Ibu yang suka cerewet kalau aku bawa mobil. suka bikin aku-yang-belum-lancar-nyetir jadi panik.

Ah, ibuuuu...
aku masih sering nakal.
Selalu buru-buru ketika selesai solat. Lupa tak mendoakannya.
Padahal aku yakin, namaku selalu terselip disetiap doa panjangnya. Ibu selalu bilang, baik di telepon juga sms, semoga eya sukses, jadi orang beruntung dan dapet jodoh yang soleh. Bahkan di usiaku yang belum sama sekali menyentuh kepala dua, ibu sering bilang kalau harus dapat suami yang pintar dan soleh. Yang bisa jadi imam.

Aku pun masih sering membantahnya. Masih jadi anak sulungnya yang malas. Yang bahkan untuk menanak nasi pun masih harus menunggu disuruh.
Sekarang, ibu memang sudah jarang lagi marahmarah, setidaknya di depanku. Kami sudah jarang bertemu. Tidak setiap hari lagi seperti dulu. Sudah tak lagi makan masakannya setiap hari. Sudah tak lagi bersenda gurau setiap hari.

Di ulang tahunnya yang sudah menginjak usia ke empat puluh tiga, aku masih merasa gadis kecilnya yang manja. Ah, ibu pasti kesal dengan sifatku yang terkadang masih suka menjengkelkan.
Walaupun kadang aku masih suka mengharap ‘coba ibu seperti itu’, tapi dialah ibu yang paling baik untukku. Mungkin ibu tak suka menuangkan keluh kesahnya ke tulisan, seperti apa yang sering aku lakukan ( padahal aku sangat berharap ibu suka menulis). Karena jujur, aku suka iri kepada ibu-ibu lain yang suka bercerita tentang anaknya lewat tulisan, bercerita tentang apa saja, lewat tulisan.
Tapi, ibuku bukan tipe seperti itu.
Sekali lagi, dia lebih suka menunjukkan kasih sayangnya lewat cara lain, bahkan lewat emosinya sekalipun.

Maafin eya ibuuu..
Eya pun butuh proses untuk menjadi anak yang baik. Sampai kapanpun eya akan berusaha menjadi yang terbaik. Anak yang baik, kakak yang baik, anak kuliahan yang baik. Semua untuk ibu.

see also : note facebook

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...