Sabtu, 17 Oktober 2009

bertutur

Saya masih di Banjarnegara, kota kecil yang banyak orang mengerutkan dahi dan menjawab nggak tahu ketika saya bertanya 'tau nggak?'

Malam tadi, kami, sekeluarga baru saja mengadakan pengajian seratus hari meninggalnya mbah putri. Ini memang bukan tuntunan agama, hanya budaya masyarakat yang tidak ada salahnya juga bila dilaksanakan, intinya silaturhami dan selalu ingat yang Kuasa, bahwa kita pun akan diambil kapan saja, sewaktu-waktu.
Jadi ingat teman satu kelas saya di kampus, Yaya namanya, yang lebih dulu kembali kepangkuanNya saat Ramadhan kemarin. Kapan giliran kita?
Semoga bekal kita cukup nantinya ya, karena ga mungkin untuk minta transfer saat kehabisan bekal itu. Hanya amal dan sepi yang menemani.

Ohoho, maaf, awalnya sama sekali tak ada niat untuk menulis tentang itu. Hanya mengikuti jari-jari saya yang bergerak kesana kemari. Jadilah ini...

2 komentar:

  1. jika waktu tlah terhenti,, teman sejati tinggallah : AMAL

    jika waktu tlah terhenti,, teman sejati tinggallah : SEPII..

    huuuu.. huuu.. (opick)

    nah itulah ey,, sekarang,, sudah siapkah anda menghadapi semua itu??
    sudah cukupkah bekal anda untuk melewati tempat itu??

    dann,,, anda sungguh orang yang beruntung sekali dengan mengingat semua itu..

    "Dan orang yang paling beruntung adalah orang yang selalu mengingat kematian."

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...