semua berujar
semua berkata..
tanpa peduli hati lawan bicara.
hanya berprasangka,
tak tahu yg sebenarnya...
lalu apa?
kemudian hanya diam tanpa kata..
yang ada hanya sebercik rasa tak berdaya setelah mendengar ocehannya...
ingin berteriak sekeras-kerasnya.
tak terima,
tak mau dianggap seperti apa yang dikatakannya..
aku hanya bisa apa..??
Jumat, 20 Maret 2009
Kamis, 19 Maret 2009
huuppff...
oke kita mulai..
tentang apa?? umm,, apa ya??
bingung..minggu minggu ini terlalu banyak aku dikejar waktu.
pengap dengan rutinitas.. pengap dengan polusi dan padatnya jalanan.
cuaca juga semakin menggila..
tentang apa?? umm,, apa ya??
bingung..minggu minggu ini terlalu banyak aku dikejar waktu.
pengap dengan rutinitas.. pengap dengan polusi dan padatnya jalanan.
cuaca juga semakin menggila..
Rabu, 18 Maret 2009
Eksak Vs Non-Eksak di setiap kelas Psikologi Pendidikan
Semester ini dapet mata kuliah umum Psikologi Pendidikan. Secara, jurusan yang saya ambil lebih konsentrasi ke pendidikan. Entah kenapa, jadwal kelas kami tabrakan dengan kelas lain di fakultas lain pula, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi jurusan Pendidikan Sejarah. Maka, dengan sangat terpaksa, dosen yang mengampu meminta kami untuk satu ruangan selama satu semseter ke depan. Walhasil, setiap rabu pagi, anak2 sejarah pindahan ke kampus teknik untuk mengikuti mata kuliah umum yang satu ini.
Awalnya, berharap bisa cuci mata dengan adanya makhluk lelaki lain dari luar kelas. Bosen juga setiap hari yang di lihat Cuma itu ituuuu aja..haha..
Tapi ternyata, justru tidak lebih baik dari kaum adam yang ada di kelas saya.hoho... :p
Hari ini, kayanya udah pertemuan ke-4 kalau ngga salah. Kesan pertama melihat Ibu dosen yang mengajar mata kuliah ini, menurutku beliau kurang begitu sigap untuk mengatur kelas. Banyak yang ngobrol sendiri, suara beliau juga kurang keras sehingga kurang dapat ditangkap apa yang sedang dibicarakan. Apalagi kelas yang ditempati bisa digambarkan seperti bioskop. Kami—mahasiswa—duduk bertingkat, sedangkan dosen menerangkan di bawah, walaupun sesekali jalan menuju atas.
Yang ingin saya ungkapkan di sini bukan mengenai model pembelajaran seperti apa yang Ibu dosen berikan atau materi2 apa saja yang dipelajarai, melainkan tentang teman-teman saya, seluruh mahasiswa yang mengikuti kelas Psikologi Pendidikan setiap hari Rabu pagi di RT1 FT UNY.
Kami,yang ada di ruangan itu berasal dari latar belakang berbeda, maksud saya, ilmu yang dipelajari amat sangat bertolak belakang. Saya dan teman-teman selalu bertemu dengan bahasa pemrograman dan hampir seluruhnya bekerja dengan logika serta penuh ketelitian, sedangkan teman kami dari kelas lain itu setiap harinya belajar mengenai masa-masa perang dunia dan perjalanan pahlawan2 tempo doeloe serta bagaimana Indonesia mencapai kemerdekaan. Mereka lebih sering membaca, menghafal, mengungkapkan, kemudian bercerita. Sedangkan kami harus benar-benar paham, sering praktikum hingga hari sudah gelap, tak harus menghafal yang penting tau, dan sering stress dengan flowchart atau mempelajari sebuah jaringan komputer.
Semua perbedaan itu memang tidak mencolok jika dilihat hanya dengan kasat mata. Duduk manis, mendengarkan penjelasan dosen, selesai.
Tapi yang terlihat mencolok—setidaknya menurut kacamata ku—adalah proses yang terjadi di dalamnya. Betapa tinggi antusiasme kelas sejarah mengikuti mata kuliah ini dibandingkan kelas saya. Bisa dilihat dengan komentar-komentar kecil yang selalu keluar dari mulut teman-teman kelas sejarah di tengah2 penjelasan dosen. Walaupun terkadang ada beberapa komentar yang ngga penting bahkan sedikit mengganggu, tapi paling tidak mereka telah membuat setiap kelas Psikologi Pendidikan kami menjadi ramai, tidak membosankan. Pun ketika sang dosen membuka kesempatan bertanya, jika dibandingkan, dari kubu sejarah pasti lebih banyak yang bertanya daripada kubu kami, informatika.
Apa ini bukti dari sistem kerja otak kiri dengan otak kanan?? atau mungkin juga, kelas saya sedikit ‘menyepelekan’ mata kuliah ini yang hampir tidak ada pengaruhnya terhadap jalannya suatu program yang kami buat. Sama halnya ketika SMA, saat pelajaran kewarganegaraan sedikit terpinggirkan di kalangan anak IPA. Sedangkan ketika si dosen mulai meberikan materinya, saya dan teman2 sekelas lebih banyak mendengarkan dari pada mencatat seperti apa yang temen2 kelas sejarah lakukan.
Pengaruh apakah itu?? Padahal jika boleh memilih, saya ingin ada di kubu lawan, masuk golongan teman-teman non eksak... *komunikasi*
Awalnya, berharap bisa cuci mata dengan adanya makhluk lelaki lain dari luar kelas. Bosen juga setiap hari yang di lihat Cuma itu ituuuu aja..haha..
Tapi ternyata, justru tidak lebih baik dari kaum adam yang ada di kelas saya.hoho... :p
Hari ini, kayanya udah pertemuan ke-4 kalau ngga salah. Kesan pertama melihat Ibu dosen yang mengajar mata kuliah ini, menurutku beliau kurang begitu sigap untuk mengatur kelas. Banyak yang ngobrol sendiri, suara beliau juga kurang keras sehingga kurang dapat ditangkap apa yang sedang dibicarakan. Apalagi kelas yang ditempati bisa digambarkan seperti bioskop. Kami—mahasiswa—duduk bertingkat, sedangkan dosen menerangkan di bawah, walaupun sesekali jalan menuju atas.
Yang ingin saya ungkapkan di sini bukan mengenai model pembelajaran seperti apa yang Ibu dosen berikan atau materi2 apa saja yang dipelajarai, melainkan tentang teman-teman saya, seluruh mahasiswa yang mengikuti kelas Psikologi Pendidikan setiap hari Rabu pagi di RT1 FT UNY.
Kami,yang ada di ruangan itu berasal dari latar belakang berbeda, maksud saya, ilmu yang dipelajari amat sangat bertolak belakang. Saya dan teman-teman selalu bertemu dengan bahasa pemrograman dan hampir seluruhnya bekerja dengan logika serta penuh ketelitian, sedangkan teman kami dari kelas lain itu setiap harinya belajar mengenai masa-masa perang dunia dan perjalanan pahlawan2 tempo doeloe serta bagaimana Indonesia mencapai kemerdekaan. Mereka lebih sering membaca, menghafal, mengungkapkan, kemudian bercerita. Sedangkan kami harus benar-benar paham, sering praktikum hingga hari sudah gelap, tak harus menghafal yang penting tau, dan sering stress dengan flowchart atau mempelajari sebuah jaringan komputer.
Semua perbedaan itu memang tidak mencolok jika dilihat hanya dengan kasat mata. Duduk manis, mendengarkan penjelasan dosen, selesai.
Tapi yang terlihat mencolok—setidaknya menurut kacamata ku—adalah proses yang terjadi di dalamnya. Betapa tinggi antusiasme kelas sejarah mengikuti mata kuliah ini dibandingkan kelas saya. Bisa dilihat dengan komentar-komentar kecil yang selalu keluar dari mulut teman-teman kelas sejarah di tengah2 penjelasan dosen. Walaupun terkadang ada beberapa komentar yang ngga penting bahkan sedikit mengganggu, tapi paling tidak mereka telah membuat setiap kelas Psikologi Pendidikan kami menjadi ramai, tidak membosankan. Pun ketika sang dosen membuka kesempatan bertanya, jika dibandingkan, dari kubu sejarah pasti lebih banyak yang bertanya daripada kubu kami, informatika.
Apa ini bukti dari sistem kerja otak kiri dengan otak kanan?? atau mungkin juga, kelas saya sedikit ‘menyepelekan’ mata kuliah ini yang hampir tidak ada pengaruhnya terhadap jalannya suatu program yang kami buat. Sama halnya ketika SMA, saat pelajaran kewarganegaraan sedikit terpinggirkan di kalangan anak IPA. Sedangkan ketika si dosen mulai meberikan materinya, saya dan teman2 sekelas lebih banyak mendengarkan dari pada mencatat seperti apa yang temen2 kelas sejarah lakukan.
Pengaruh apakah itu?? Padahal jika boleh memilih, saya ingin ada di kubu lawan, masuk golongan teman-teman non eksak... *komunikasi*
Jumat, 06 Maret 2009
Menjadi Remaja Biasa yang Bijak Mengelola Waktu
Pernah ngga sih terpikir selama ini apa saja yang telah kila lakukan??
Maksudnya, hal-hal ‘luar biasa’ apa yang udah kita lakukan dalam hidup.
Aku—baru—merasa kalo selama ini telah membuang waktu dengan sia-sia. Kenapa?? Karena rasa-rasanya aku telah menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang ada tanpa melakukan sesuatu yang luar biasa.
Aku hidup layaknya remaja lainnya. Standar, tak ada yang ‘istimewa’.
Tak sehebat Danar yang bisa merasakan enaknya sekolah di Jepang.
Tak sehebat Gigih, sepupuku satu angkatan yang juga bisa nikmatin enaknya sekolah di Amerika dan terpaksa masih ada di tingkat akhir SMA sekarang (aku yakin 1 tahun ‘ketinggalannya’ ini tetap dia jalani dengan riang gembira).
Ngga sepinter Ajeng yang dari SD udah jadi siswa Teladan dan selalu dapet tempat sekolah yang T.O.P sampe sekarang.
Ngga secerdas Zaenal Imron, ade kelasku yang dapet medali sampe Olimpiade Geologi internasional di Korea tahun kemaren.
Ngga sekeren Ganis yang sempet jaLan2 ke Eropa *hanya* karena pentas menari.
Belum pernah merasakan ikut perlombaan-perlombaan bergengsi seperti teman2 yang lain. Hanya sekolah, ikut organisasi, ikut les-les mata pelajaran yang memang aku lemah di dalamnya.
Pernah terpikir ngga sih apa orang tua kita kadang iri melihat anak rekan kerjanya bisa meraih prestasi setinggi langit sedangkan anaknya hanya bisa ‘berprestasi’ setinggi atap. Nilai raporku juga biasa, walaupun Alhamdulillah tak pernah sama sekali mengecewakan. Ingin sekali namaku ikut disebut saat pembagian penghargaan untuk anak-anak yang masuk 3 besar saat acara kelulusan sekolah. ( dan itu pun hanya terjadi saat SD )
Selama ini ternyata banyak peluang yang ada di depan kita, teman. Terlalu banyak waktu yang kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang ngga penting.
Tak ada kata terlambat untuk hal baik. Sekarang saatnya bijak mengelola waktu.
Maksudnya, hal-hal ‘luar biasa’ apa yang udah kita lakukan dalam hidup.
Aku—baru—merasa kalo selama ini telah membuang waktu dengan sia-sia. Kenapa?? Karena rasa-rasanya aku telah menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang ada tanpa melakukan sesuatu yang luar biasa.
Aku hidup layaknya remaja lainnya. Standar, tak ada yang ‘istimewa’.
Tak sehebat Danar yang bisa merasakan enaknya sekolah di Jepang.
Tak sehebat Gigih, sepupuku satu angkatan yang juga bisa nikmatin enaknya sekolah di Amerika dan terpaksa masih ada di tingkat akhir SMA sekarang (aku yakin 1 tahun ‘ketinggalannya’ ini tetap dia jalani dengan riang gembira).
Ngga sepinter Ajeng yang dari SD udah jadi siswa Teladan dan selalu dapet tempat sekolah yang T.O.P sampe sekarang.
Ngga secerdas Zaenal Imron, ade kelasku yang dapet medali sampe Olimpiade Geologi internasional di Korea tahun kemaren.
Ngga sekeren Ganis yang sempet jaLan2 ke Eropa *hanya* karena pentas menari.
Belum pernah merasakan ikut perlombaan-perlombaan bergengsi seperti teman2 yang lain. Hanya sekolah, ikut organisasi, ikut les-les mata pelajaran yang memang aku lemah di dalamnya.
Pernah terpikir ngga sih apa orang tua kita kadang iri melihat anak rekan kerjanya bisa meraih prestasi setinggi langit sedangkan anaknya hanya bisa ‘berprestasi’ setinggi atap. Nilai raporku juga biasa, walaupun Alhamdulillah tak pernah sama sekali mengecewakan. Ingin sekali namaku ikut disebut saat pembagian penghargaan untuk anak-anak yang masuk 3 besar saat acara kelulusan sekolah. ( dan itu pun hanya terjadi saat SD )
Selama ini ternyata banyak peluang yang ada di depan kita, teman. Terlalu banyak waktu yang kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang ngga penting.
Tak ada kata terlambat untuk hal baik. Sekarang saatnya bijak mengelola waktu.
Senin, 02 Maret 2009
Satu Rindu

Hujan kau ingatkan aku
Tentang satu rindu
Di masa yang lalu saat mimpi
Masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
kau ibu...oh ibu
Allah, ijinkanlah aku bahagiakan dia
Meski dia t'lah jauh biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
Oh...ibu...oh..ibu...kau ibu
by Opick ft Amanda
Titip Rindu Buat Ayah

Dimatamu masih tersimpan Selaksa peristiwa
Benturan dan hembasan terpahang dikeningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah .... hmmm hmmm ...
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin syarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu banyak menanggung beban ho ho
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia.
By Ebiet G Ade
Minggu, 01 Maret 2009
IPC Ruang R3 dan cokeLat siLverqueen
Hari ini akhirnya tiba, Minggu, 1 Maret 2009
Nothing speciaL, Cuma ada kejadian bersejarah yang ngga akan mungkin terLupa.
hari ini, aku serasa kembaLi ke masa setahun siLam, yaitu, kembaLi mengisi buLatan buLatan di lembar jawaban dengan pensiL faber castel 2B. Kikuk, udah Lama ngga melakukan hal itu, yah, sedikit2 menghapus beberapa buLatan yang terlihat ngga rapi, takut ngga ke detect sama komputer.
Belum lagi pelajaran-pelajaran masa sekolah yang udah terlupakan. Kimia, fisika, biologi..oh...
Gimana caranya ngitung entalpi pembentukan metana??
Proses apa yang pada mRNA digunakan untuk menyusun rangkaian asam amino bla..bla..bla..???
Berapa vektor kecepatan benda sebeLum meLedak??
apaLagi pas pelajaran IPS. Secara aku sama sekali ngga dapet mata peLajaran itu pas SMA..
Huhuhu....sadar semua memang tanpa persiapan yang cukup, aku hanya bisa tawakaL (baca : pasrah)
SeteLah sarapan gudeg yang lezat ditambah segeLas energen cokeLat yang hangat, berangkatLah sendiri menuju Lokasi.hmm,,kaya orang iLang. Ngga ada yang dikenaL.
Masuk ruangan, satu meja dengan sosok laki-laki yang—maaf—sedikit aneh. Sebagai cowok, dia pendek, ada jenggotnya dikit, pake kemeja pink dengan warna pink yang norak, pake kacamata, pake celana katun warna krem gitu, sepatu fantoveL yang Lebih mirip sepatu boat, ngga bawa tempat alat tulis, pensil pulen dsb dibiarkan tergeletak ngga rapi, kartu ujian dilipet2 ngga jelas, kalo lagi ngisi lembar jawab giginya keluar2 (hoho), belum lagi jaket yang dia pake ternyata ada lubangnya alias bolong kaya digigit tikus di bagian punggung kanan atas. Ahh,,iLfiL Liat cowo kaya gitu. Tapi, muka dia kaya tampang2 profesor gitu, IPA banget de. Kayanya orang modeL gituan yang diterima..uhuhu..
Kira2 satu jam setelah bel tanda dimulai berbunyi, ada sesosok yang amat sangat aku kenal tau2 nongoL di depan ruang. Haha..ternyata idok ! ehm, jujur nih ya, jadi grogi ne ngerjainya!wkwk..apalagi pas bengong ( ngga bisa ngerjain maksudnye ), lihat2 sekeliling dan tau2 mataku bertemu dengan pandangannya yang duduk di bangku depan ruangan.nyeesss...ngga konsen! Haha..pengen ketawa. Kaya anak TK yang ditungguin mamanya di luar kelas. ; p
Selesai sekitar jam 15.00, puLang ke kos bareng idok dengan motor sendiri2..
silverqueen yang udah sedikit meleleh itu sebagai kado di buLan ke-4 katanya..
haha..makasih boo =)
Nothing speciaL, Cuma ada kejadian bersejarah yang ngga akan mungkin terLupa.
hari ini, aku serasa kembaLi ke masa setahun siLam, yaitu, kembaLi mengisi buLatan buLatan di lembar jawaban dengan pensiL faber castel 2B. Kikuk, udah Lama ngga melakukan hal itu, yah, sedikit2 menghapus beberapa buLatan yang terlihat ngga rapi, takut ngga ke detect sama komputer.
Belum lagi pelajaran-pelajaran masa sekolah yang udah terlupakan. Kimia, fisika, biologi..oh...
Gimana caranya ngitung entalpi pembentukan metana??
Proses apa yang pada mRNA digunakan untuk menyusun rangkaian asam amino bla..bla..bla..???
Berapa vektor kecepatan benda sebeLum meLedak??
apaLagi pas pelajaran IPS. Secara aku sama sekali ngga dapet mata peLajaran itu pas SMA..
Huhuhu....sadar semua memang tanpa persiapan yang cukup, aku hanya bisa tawakaL (baca : pasrah)
SeteLah sarapan gudeg yang lezat ditambah segeLas energen cokeLat yang hangat, berangkatLah sendiri menuju Lokasi.hmm,,kaya orang iLang. Ngga ada yang dikenaL.
Masuk ruangan, satu meja dengan sosok laki-laki yang—maaf—sedikit aneh. Sebagai cowok, dia pendek, ada jenggotnya dikit, pake kemeja pink dengan warna pink yang norak, pake kacamata, pake celana katun warna krem gitu, sepatu fantoveL yang Lebih mirip sepatu boat, ngga bawa tempat alat tulis, pensil pulen dsb dibiarkan tergeletak ngga rapi, kartu ujian dilipet2 ngga jelas, kalo lagi ngisi lembar jawab giginya keluar2 (hoho), belum lagi jaket yang dia pake ternyata ada lubangnya alias bolong kaya digigit tikus di bagian punggung kanan atas. Ahh,,iLfiL Liat cowo kaya gitu. Tapi, muka dia kaya tampang2 profesor gitu, IPA banget de. Kayanya orang modeL gituan yang diterima..uhuhu..
Kira2 satu jam setelah bel tanda dimulai berbunyi, ada sesosok yang amat sangat aku kenal tau2 nongoL di depan ruang. Haha..ternyata idok ! ehm, jujur nih ya, jadi grogi ne ngerjainya!wkwk..apalagi pas bengong ( ngga bisa ngerjain maksudnye ), lihat2 sekeliling dan tau2 mataku bertemu dengan pandangannya yang duduk di bangku depan ruangan.nyeesss...ngga konsen! Haha..pengen ketawa. Kaya anak TK yang ditungguin mamanya di luar kelas. ; p
Selesai sekitar jam 15.00, puLang ke kos bareng idok dengan motor sendiri2..
silverqueen yang udah sedikit meleleh itu sebagai kado di buLan ke-4 katanya..
haha..makasih boo =)
Langganan:
Postingan (Atom)